Wednesday, April 8, 2015

Cinta, Ndak Level?

Awas!
Satu kali kau, salah melangkah.
Bibir mulai berdusta.
Tingkah lakumu mulai berubah
Tak pernah lagi, kau, balas rasa rindu.
Bahkan, sengaja, tak kau jawab telepon.
Awas!!!
[bicara pada dinding.]
Maki  Lola meninju udara.
Demi harga diri, tak mau aku hubungi dia. Di anggap apa aku ini nanti.
Ngejar brondong, cuih!
Sebenarnya, aku sadar.
Lelaki  itu.
Ndak level-lah untukku.

Angsa Putih

Sepercik rindu
Kubiarkan mengendap
Mengunung di tepi hatiku.
Kubiarkan sampai mana, ku sanggup.
Ku tahan.
Dalam tarikkan nafasku.
Sungguh menyiksa.

Seekor angsa menyendiri
diantara banyak angsa
berenang tenang
mendekat.
Diam

Tuesday, April 7, 2015

Hari Pertama di adopsi | Megumi


CERITA MEGUMI

Megumi, sehabis dimandikan.
Diantara tungku abu dan kayu bakar.
Gudang tua, milik Uwaku.
Wajah mungil itu, mengintip ketakutan.
Berlari mengendap, menunduk tiarap di lantai, 

Namun, rasa ingin taunya.
Kembali, wajah kecil itu muncul di tumpukan kayu bakar
Debu abu kering menempel di sekujur tubuhnya.  
Sembunyi tak bersuara.
aihhhh...seorang diri.
Liar, akhirnya  tertangkap.
Kubelai dengan sayang...Tak tega, meninggalkannya sendiri.
Tanpa Induknya, entah sanggupkah ia bertahan. Kupeluk erat dalam dekapan.
Mari, sini, ikut pulang.

Monday, April 6, 2015

Dalam Renungan

:: Di tepi sungai.

Musim tak tentu.
Apakah Tuhan sedang marah.
Matahari seakan malu.
Malah hujan yang menghampar.
Saljupun datang tiba-tiba.
Dingin
hanya dingin.

Ragaku yang mulai tak berkawan.
Apakah aku masih kuat bertahan
berkaca ku di tepian sungai.
airnya jernih sampai ke laut
Bantulan wajahku, buram tak jelas.
Tak pula kutemukan, jawaban.

Sunday, April 5, 2015

Suatu saat, kubawa wanita itu.

Jika kau terus membujang, Nak.
Maka, kau akan tetap sendiri.
"Iyalah, Mbu," aku merebahkan kepalaku di pangkuan Embu.
Perempuan tua, itu menatap nanar.
Tak menjawab, hanya tangannya terus membelai rambutku.
"Mbu, matipun akan sendiri. Enjoy."
Aku mendengar, nafas Embu yang tertahan...trus membelaiku.
Dadanya naik turun.

Emak Awu, Emak Imonk dan Soesi dalam Kenangan



Sebelum meninggal, Emak  Imonk memeluk anaknya dengan sayang
Soesi kini tlah tiada, namun segala kemanisan tetap di kenang.
Soesie telah kehilangan  induk yang sangat penyayang, saat masih kecil.
Waktu Emak Awu pergi selamanya, Soesi melanjutkan menyusu dengan Imonk.
Emak Imonk  baru melahirkan, seperti juga Awu, Imonk memperlakukan Soesi seperti anaknya.

Saturday, April 4, 2015

Hatiku bukan pualam

Aku tak mengertiiiiiii
Perempuan itu memekik
Di ujung tepian laut
Ombak mendebur bagai hatinya.
Samudera membelah jiwa


Aku tak mengerti.
Katanya bercampur tangis
ia menghentak kakinya
Menabur pasir memburai
bagai hati yang tau rasa.