Tuesday, April 7, 2015

Hari Pertama di adopsi | Megumi


CERITA MEGUMI

Megumi, sehabis dimandikan.
Diantara tungku abu dan kayu bakar.
Gudang tua, milik Uwaku.
Wajah mungil itu, mengintip ketakutan.
Berlari mengendap, menunduk tiarap di lantai, 

Namun, rasa ingin taunya.
Kembali, wajah kecil itu muncul di tumpukan kayu bakar
Debu abu kering menempel di sekujur tubuhnya.  
Sembunyi tak bersuara.
aihhhh...seorang diri.
Liar, akhirnya  tertangkap.
Kubelai dengan sayang...Tak tega, meninggalkannya sendiri.
Tanpa Induknya, entah sanggupkah ia bertahan. Kupeluk erat dalam dekapan.
Mari, sini, ikut pulang.

Monday, April 6, 2015

Dalam Renungan

:: Di tepi sungai.

Musim tak tentu.
Apakah Tuhan sedang marah.
Matahari seakan malu.
Malah hujan yang menghampar.
Saljupun datang tiba-tiba.
Dingin
hanya dingin.

Ragaku yang mulai tak berkawan.
Apakah aku masih kuat bertahan
berkaca ku di tepian sungai.
airnya jernih sampai ke laut
Bantulan wajahku, buram tak jelas.
Tak pula kutemukan, jawaban.

Sunday, April 5, 2015

Suatu saat, kubawa wanita itu.

Jika kau terus membujang, Nak.
Maka, kau akan tetap sendiri.
"Iyalah, Mbu," aku merebahkan kepalaku di pangkuan Embu.
Perempuan tua, itu menatap nanar.
Tak menjawab, hanya tangannya terus membelai rambutku.
"Mbu, matipun akan sendiri. Enjoy."
Aku mendengar, nafas Embu yang tertahan...trus membelaiku.
Dadanya naik turun.

Emak Awu, Emak Imonk dan Soesi dalam Kenangan



Sebelum meninggal, Emak  Imonk memeluk anaknya dengan sayang
Soesi kini tlah tiada, namun segala kemanisan tetap di kenang.
Soesie telah kehilangan  induk yang sangat penyayang, saat masih kecil.
Waktu Emak Awu pergi selamanya, Soesi melanjutkan menyusu dengan Imonk.
Emak Imonk  baru melahirkan, seperti juga Awu, Imonk memperlakukan Soesi seperti anaknya.

Saturday, April 4, 2015

Hatiku bukan pualam

Aku tak mengertiiiiiii
Perempuan itu memekik
Di ujung tepian laut
Ombak mendebur bagai hatinya.
Samudera membelah jiwa


Aku tak mengerti.
Katanya bercampur tangis
ia menghentak kakinya
Menabur pasir memburai
bagai hati yang tau rasa.

Friday, April 3, 2015

MENGUAK MANISNYA SANDIWARA

Daily1

Gemetar saat aku ajukan surat tanda gugat cerai Islam.
Surat di selembar kertas bermaterai, yang ditanda tangan aku dan suami.
Kupikir, inilah jalan terakhir dari seluruh kesabaran dan ketegaran.
Seorang wanita yang selama 22 tahun hanya diam dalam tekanan batin maha dasyat. Menanti, sumbu bom waktu, titik nadir kehidupan.
Terkumpul sudah keberanian untuk keluar dari ketidak berdayaan.
Hanya kepada Allah, aku pasrahkan.
Amoun Ya Allah, telah patah ke empat tiang yang ku pertahankan selama ini.
Ampunkan hamba, jika hamba tak sanggup lagi

Malam berintik rinai, di depanku, kakak ipar sebagai saksi.
Bagai tersambar petir di siang hari..ia tidak percaya
tapi, ini harus kulakukan, dan harus percaya
Inilah yang terjadi, tolong  tanda tangani.

Tetap saja, Aku Rindu.

Kutitip kan ya, Kang
sekantong rindu
sejumput kepercayaan
satu lagi....
kesetiaan.
"Dik, kenapa cuma sejumput kepercayaan?"