Sunday, December 8, 2019

Cerita Ngalor Ngidul

Matahari minggu ke dua Desember, pagi ini cukup bersinar.
Sayang, bunga Garlic Unggu tak bermekaran, hujan membuatnya tak bisa bertahan, bunga rontok sebelum waktunya.
Kalau mekar sempurna, bunga itu cantik sekali, kata orang yang melihatnya, serasa di Jepang.

Saturday, December 7, 2019

Sederhana itu nikmat.

Kang..
Tak perlu resah, tak membelikan tas branded  untukku.
karena aku seorang crafter, aku lebih suka tas handmade tanpa merek terkenal. Aku suka membuatnya sendiri.
Aku tak perlu tas mahal. Tak perlu.
.

Wednesday, November 13, 2019

Tiba Waktunya Coki menjadi Kucing Dewasa

Salah satuku ada yang sangat manja, namanya Coki Toti, berbulu oren loreng atau coklat muda.
Wajahnya aleman. Dia jantan, tapi berwajah manis.


Aku menamakan coki, kebetulan ada teman yang memberitahu Coki dalam bahasa Bugis artinya Kucing.

Ketika Kucing Memilih Jalan Hidupnya

Dua hari ini hujan deras hingga malam.
itupun aku keluar rumah membawa dry food untuk Emilie.
Kucing pendiam itu tak menyahut.
Malam ini, hujan turun, aku tetap pergi berpayung dengan semangkuk makanan.
Berkali memanggil namanya.
Miliiiii, Emiliii.

Hening.
Akhirnya, aku duduk di warung pinggir, sabar menunggu.
Tiba-tiba, suara yang sangat ku kenal, Emilie.
Makan di kebon belakang

Jarang-jarang dia keluar mendekat kekumpulan orang, kucing ini penakut. Pasti dia sangat lapar.Segera ku taruh makanan berlahan, kalo tidak Emili akan lari ketakutan.
Kucing betina ini sudah dua tahun minggat dari rumah sejak ada kucing baru di rumah, Lolita yang beranak di teras. Emili tidak menerima kedatangan teman baru. Ia memilih hidu di luar rumah.
Awalnya, ia masih takut-takut pulang, hanya sekedar makan.
Langsung kutaruh dikamar supaya betah.
Ditinggal sebentar, Emilie, sudah kabur kembali.
Sedih...
Lama kelamaan Emilie tak mau pulang.
( Baca tentang Emilie )
Sejak itu, aku dan anakku Ica rutin memberinya makan di luar, berpesan pada lingkungan dimana Emilie bersembunyi. Kadang di rumah gedung yang teramat sepi.
Jangan memukulnya. Kenyataan Emili mirip hantu, jarang terlihat dan selalu bersembunyi.

Malam ini, sambil mengunyah, Emilie melahap makanan dengan mengeluarkan suaranya..
Lalu aku beranjak pulang, ia tetap berdiri di ujung jalan...masih lapar.
Berlari aku pulang, menuang dry food semangkuk penuh lagi dan sepotong besar tongkol.
Kucing itu tetap menunggu di ujung jalan, sepertinya tau aku akan datang lagi.
Benar, ia sangat kelaparan. Diantara hujan sambil berpayung, jam 21.00...hanya aku yang ada disitu, memandang pedih kucing kesayangan itu. (Baca: Emilie Penyendiri)
Pulang ke rumah yuk, Mili.
Kadang kita tak bisa berbuat apa-apa, kucing pun dapat memilih jalan hidupnya, tetap di dalam rumah, atau pergi dan bersembunyi.
Mengapa kucing memilih hidup di luar rumah.
- Cemburu dengan kucing baru di rumah
- Merasa terancam
- Tipe kucing, penyendiri.
- Takut
Apapun upaya untuk membuatnya kembali, dengan terus membelainya seperti pada Bonie. Tapi Emilie, bersikap melawan, mengigit kalau dipegang. Hingga aku tak bisa memaksanya untuk pulang.
Demi dikau sayangku, setiap malam, aku selalu memberinya makan, itupun kalau suasana sudah sepi sekali sekitar jam 8 malam keatas, baru Emilie muncul.
Pagi hari, Emilie akan bersembunyi. Entahlah, ini sifat diturunkan dari ibunya, Pusi, hingga saat ini, induknya pun tak bisa aku pegang.
Emilie, jika itu pilihanmu, bebas berbain di alam luas.
Pandai/pandailah menjaga diri.
Aku tetap memberinya makan setiap hari, bagaimanapun, engkau adalah bagian dari keluarga ini.
Doakan, kelak Emily mau pulang ya
Hampir dua tahun, Emily seperti ditelan bumi. Dimana berada ...Mungkin, ia telah berlari di antara pepohonan di taman Firdaus, tak.ada lagi rasa cemas.

Pergilah, sayangku




Sunday, June 23, 2019

Jamilah: Adakah Cinta

Part 4
Empat tahun telah berlalu.
Waktu pula yang mengobati dan menyatukan serpihan hati yang retak.
Waktu pula yang membawa kehidupan Jamilah untuk bangkit dalam kemandirian.
Keterpurukkan perkawinan mengajarkan banyak hal untuk menata kehidupan kembali

Friday, June 21, 2019

Jamilah Kikuk

Part 3

Senin, kala udara panas membara, seperti degup cinta Jamilah waktu itu

Ini Senin dalam hidup Jamilah berbohong pada Emaknya.
Minta ijin pergi beberapa hari karena ada seminar di kota.
Ah, sungguh berdebar Senin ini.
.
Sebenarnya Jamilah terlalu cepat tiba dengan travel, iyalah... Jamilah takut terlambat menjemput di Bandara.
Lagi-lagi Jamilah memperbaiki dandannya, memantaskan diri untuk bertemu pertama kali.
Tiga jam bersabar, menatap layar informasi, kapan tibanya?
Ah...lagi-lagi gelisah.
.
Baju kaos biru bercelana  jeans, ini pakaian pas buat Jamilah, manis dan sederhana.
Lagi-lagi Jamilah tak yakin, apa lelaki ini serius?
Tak ada chatnya masuk.
.
Pesawat sudah tiba 15 menit, tak ada tanda.
Jamilah berdiri di pintu kedatangan.
Melonggok, disapunya seluruh pojok bandara.
Itu dia, di sisi kanan, sibuk chating.
Jamilah hanya menebak, meringsut mendekat.
"Kang," sapa Jamilah, senyum ragu dan kikuk melihat gestur yang dipanggilnya.
Biasa saja melihat Jamilah.
Tak ada senyuman bahkan pelukan persahabatan. Spontan, Jamilah kikuk.
Benar-benar kikuk.
.
Sebenarnya Jamilah ingin pulang, tapi Jamilah bersabar.
Mungkin, diapun sama kikuknya.
.
Empat hari berlalu.
Berkumpul dengan sahabat-sabahatnya. Dunia baru bagi Jamilah. Bagaikan manusia keluar dari goa, kikuk dan kampungan...dunia yang berbeda, bagai bumi dan langit.

Jamilah hanya menatap terdiam, saat berpisah.
Mengantarkannya di stasiun kereta api kota. Ia pun pergi tanpa menoleh ke belakang, melihat Jamilah, pergi begitu saja.
Jamilah yang menatap nanar bertanya-tanya...kok begitu?
Tak pula, ia melambai mesra pada Jamilah.
Itulah hal tersedih dalam hidup Jamilah.
Mungkin, aku hanya teman. Having fun...tak ada artinya, Jamilah menunduk pilu.

Jamilah tak tau apa yang terjadi selanjutnya...tak tau bagaimana.
.
Kasihannya diriku, Jamilah meratapi dirinya.
Lalu tertidur dalam sedih.
Jamilah tau, pasti ia sedang chating dengan sahabat dekatnya...bukan dengan Jamilah...dia dia dan dia.
Sedihnya hati Jamilah.
.
Itulah kejadian, Jamilah bertemu pertama kali.
Tak  banyak berharap, Jamilah menjalankan harinya bersama emak di kampung.
Jamilah hampir menghapus satu nama itu. Yang tak jelas niat.
Nyatanya, Allah menetapkan,.lelaki itu sebagai suami Jamilah.
Jodoh memang misteri.
.
Jodoh

Sunday, June 9, 2019

Jamilah, antara High Heels dan Rorombeheun

"Suka sekali aku dengan perempuan berkaki jenjang, sepatu high heels bertali-tali..."
.
Sebuah percakapan di kala sore, Jamilah menyimpan kata-kata di lubuk hati terdalam.
"Aah..itu cuman fantasi." Sambungnya, seakan tau isi kepala Jamilah.
"Pantas, akang suka sekali penampilan dadong, kakinya jenjang, pakaiannya berleher rendah hingga belahan payudaranya sangat tampak. Sekalipun wajahnya mulai tua."
balas Jamilah.
Yaa....wanita tua itu sangat modis, suka berpesta, bahasanya bercampur Indonesia dan Inggris, sosialita di kalangannya...sebentar-bentar berkata" iyaaa Sayang"
"Aaah...kamu selalu cemburu."
Keduanya hening. Diam dalam pikiran yang berputar-putar.