Monday, September 28, 2020

Jala Singkong, Donat Kearifan Lokal

"Assalamu'alaikummm..."
Suara yang sangat aku kenal, nyaring sekali, bagai pekik kemerdekaan.

"Wa alaikum salam. Itu kue jala singkong."
Bocah itu mengangguk mantap.
Ibrahim, punya bisnisnya macam-macam, selain jualan layangan, juga bisnis jasa kurir makanan, atau apa saja...Bisnis man. (Baca juga Ibrahim)

Aku menyerahkan uang sepuluh ribu untuk enam buah jala singkong. Kulebihkan dua ribu rupiah untuk bocah tampan ini.
Pasti tangkas ia menolak: nggak usah bu Een.
"Untuk jajan. Ambil," paksaku

"Terima kasih, bu Een." Ia tersenyum lebar, memperlihatkan gigi depan yang panjang sebelah.


Bonus karamel gula meran
 Jala Singkong, ku pikir ini donat dengan kearipan lokal Indonesia di masa lampau ya.

Sunday, September 27, 2020

Ucapan adalah Doa

"Bu Een, benar ya, kucingnya Raja, ada di Bu Een?" tanya Ibrahim penasaran.
"Iyaaa..." jawabku keheranan, melihat bocah ini, hujan-hujan, naik sepeda cuman tanya soal kucing.

"Induknya mati. Kasihan ya bu Een," lanjut Ibrahim prihatin, wajahnya terlihat sedih dan badannya kuyup bermandi hujan.
Bocah itu mengayuh kencang sepeda, sebelum aku menjawab di tengah keheranan.

Ya Allah, cucu tetangga itu memang penyayang kucing. Rela-relanya kemari, hanya menegaskan berita yang hit di antara bocah, pasti cerita si Raja, nama cucu bu RT.

Menyelamatkan Tiga Bayi Kucing Kehilangan Induk

Setiap pengajian di Aula RW 06 Pasir Mulya, induk kucing liar itu selalu berlari mendekatku, kadang ke bu Hj. Heni Tarjo yang juga pencinta kucing.
Kucing cantik ini, sepertinya dibuang saat hamil tua.

"Bu En, kucingnya beranak di rumah saya, anaknya lima. Tuh saya kasih kardus." Bu RT yang tinggal di samping aula memberitakan kelahirannya, selasa, 1 September 2020.
Aku dan Heni berencana untuk patungan steril si induk selepas 2 bulan nanti.
Berpesan pada bu RT, tolong titip kucing itu. Sekantong DF aku serahkan buat si induk.

22 hari kemudian.

Si Induk dari kemarin sesak nafas, anaknya tak disusui.
Bu Heni segera membawa ke klinik hewan. Baru mau diperiksa, induknya mati.
Langsung terbayang ke lima bayi kucing itu.
Alangkan sedihnya ditinggal ibu.
Allah lebih sayang pada si induk. Ada rencana lain, mungkin lebih indah.
Bu Heni, membawa 3 bayi ke rumahku, dua diambil anak bu RT. 
Di rumah bu Heni, pasukan kucingnya kena flu semua, dan bu Een lebih layak merawatnya, katanya berharap aku tak menolak tiga bayi dalam keranjang.

Bayi kucing yang lucu berbulu panjang berrwarna abu dan loreng.
Sampai menitik airmata ini melihat bayi tanpa induk.
Masya Allah, aku ikhlas dengan rezeki ini
.
Jika, induk dan 5 anak itu besar, pasti dibuang bu RT. Karena si Uno, kucing jantan yang sudah ku steril aja, dibuang (cuman satu aja dibuang): alasannya si Uno dikasih ke kakaknya. Tapi naluri bu Heni dan aku, kok bisa sama, Uno dibuang...aduhhh sedihnya.
Ada  juga satu kucing titipan anaknya pun sering ngelayap karena lapar.
Terbayangkan nasib si induk juga dibuang nanti.
Inilah rencana Allah. (baca Ucapan adalah doa)
Tiga anak kucing kini ada di rumahku. Sehat terus ya bayi.
Ku beri nama: Thomas, Bubu Grey dan Dolly.

Hari ke 27, ketiga bayi semakin gemuk
Perlu banyak ikhlassssss.

Sunday, January 5, 2020

Pamitan terakhir

Sejak Bapak terkena stroke tahun 2013. Waktuku lebih banyak tinggal di Cikalahang untuk membantu Mama merawat bapak.
Apalagi Mama juga tidak begitu sehat, kedua orang tua penyandang diabetes, jadi perlu banyak perhatian.

Setiap mau pulang ke Bogor, aku berpamitan dengan bapak, selalu saja diiringi tangis cekukan (bapak berubah seperti anak kecil sejak sakit)
"Jangan lama-lama."
Itu pesannya, supaya aku cepat kembali ke Cikalahang. Kalau lama sedikit, sudahlah, bapak selalu telepon dan bertanya: kapan ke kampung?

Bulan Agustus 2014.
"Pak, Een pulang dulu, ya."
Bapak mengangguk, tak menangis seperti biasa.
Aku mencium pipinya, sambil meminta maaf. Bapak mengangguk-angguk di tempat tidur khusus di ruang tengah.
Tak ada tangis atau pesan cepat pulang, Een.
.
Empat hari kemudian, kabar dari kampung, jam 10 Bapak sudah berpulang ke Rahmatullah. Pergi untuk selamanya.
Tiba-tiba dunia berputar, aku lemas sekali.
Kalau aku tau tiba saatnya, tak akan aku pulang ke Bogor. Takdir berbicara lain.

Ternyata, empat hari yang lalu, adalah pamitanku yang terakhir kepada bapak. Pantas tak ada isak tamgis bapak seperti biasa, karena yang menangis keras saat ini adalah aku.
"Bapak sudah pulang..."

.

.

Tiga tahun kemudian

Wednesday, January 1, 2020

Selamat Datang 2020 Masehi: Kembang Api vs Pasukan Kucing

Tahun baru, ditandai hujan tak ada henti-hentinya sejak sore kemarin. 

Berhenti sebentar tepat jam 12.00 WIB

Efek suara kembang api

Letupan kembang api membuat pasukan kucing ketakutan, panik dan stres.

Tindakan awal sudah aku lakukan dengan menutup jendela, agar menghindari kilatan cahaya kembang api dan meredam bunyi.

Sunday, December 29, 2019

Mudahnya Membayar Pajak Kendaraan di Samsat Outlet Bogor

Motor tua sudah saatnya pajak STNK tanggal 29 Desember 2019

.
Itu jatuh di hari Sabtu.
Apa Samsat Outlet Kota Bogor libur?

Kerinduan Rambo Kucing Pada Bapak




Ini namanya “Rambo”.

Kucing persia yang sejak kecil diadopsi oleh almarhum ayah saya, dia sehari-hari hanya di rumah saja bersama ayah saya. Makan dan minumnya diperhatikan, bahkan kalau sakit sampai dibawa ke klinik dokter hewan. Hingga tidur pun selalu nempel dengan ayah saya.
Seolah dia sudah terdapat ikatan batin dengan ayah saya.