Thursday, December 31, 2015

Sedesir kalimat adalah Doa

Kalimat itu adalah doa.
Sedesir saja di hati, itupun doa...
Seperti cerita ini.

Sebuah jalan lurus selalu kulewati setiap pulang dari pasar Gunung Batu, Bogor.
Jalan kecil, di kiri kanannya,  dibangun rumah-rumah petak dengan ragam aktivitas.
Menjemur bantal, menjual lotek, warung kecil dan tanggisan anak kecil.
Sebenarnya, aku malas melewati jalan ini. Enggan melihat di kiri kanan jalan.



Kenapa? Banyak kucing.
Pilu melihat induk kucing, meneteki anaknya. Tubuhnya kurus.
Berapa kali berhenti memberi pindang tongkol.
Hari ini, tak kulihat lagi kedua anak kucing.
Sedihnya, pasti sudah dibuang.

Itulah, mengapa aku selalu mencari jalan lain, yang lebih aman, menentramkan hatiku.
Namun, selalu saja, ada cerita di jalan itu.

Hujan berhenti terlalu dini, masih menyisakan air tergenang. Dengan terburu, aku berjalan. Aaah, kenapa mata ini langsung tertuju pada kucing kecil yang terlelap di kursi penjual lotek di pinggir jalan.
Berwarna coklat terang. Ia membuka matanya berlahan, matanya kecil sebelah, tubuhnya ringking.
"Kasihan," batinku.
Aku menahan diriku, aku masih berduka kehilangan Neko Hameri.Klik
Menjauh, kembali menengok kucing itu dan terus membatin.
Kasihan, kasihan,kasihan.
Coba kubawa pulang, coba kubawa...
Kasihan.
Desir kata begemuruh di batinku, bertempur dengan jiwaku untuk menahan diri, biarlah dia disana.
Bergegas aku berlalu.

***
Dua minggu yang lalu.
Aku membeli pisang goreng di warung kebon milik tetangga.
Letaknya di pinggir jalan. Warung sederhana berdiri di tanah orang.
Alangkah terkejutnya, kucing kecil berbulu terang, tertidur di bangku.
Lalu aku berpikir, berapa jauhnya ia berjalan mencari tempat bernaung.
"Jangan dibuang, ya," pesanku sambil membelainya, usianya kira-kira 5 bulan, sama dengan Neko, namun ini terlalu kurus.
Dalam batinku, ingin membawanya pulang. Tapi menahan diri.

Dua hari yang lalu, 28 Desember 15
Aku datang lagi, sengaja untuk menengoknya.
Kucing kecil berlari kesana kemari, meminta secuil kue.
"Ini nakal, mau dibuang ke pasar"
Ia nakal karena lapar.
Aku langsung mengendongnya pulang, sambil berkata pada si Popi, pemilik warung.
"Jangan dibuang ke pasar, karena  itulah awal kekejaman  bagi kucing ini"

Lahap ia memakan dryfood, sudah berapa lama tak makan, batinku.
Tampak gugup menghadapi gerombolan si berat yang memang galak. Kupikir, nanti juga akur, nyatanya, si kecil menghilang.
Selepas magrib, bulunya basah karena hujan. Ia berdiri dibdepan pintu. Si kecil kembali pulang.
Tampak letih dan dingin.
Oh, kata hatiku, yang tak bisa kupinggiri untuk mencintainya. 
Satu pergi, kini, satu datang lagi.
Selamat datang, sayang.
Delila Des. kucing kecilku


3 comments:

  1. Kucingnya lucu mba, aku suka juga cuma suka bersin sam bulu2nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ini penghuni baru di bulan Desember.
      Yang penting mencintai hewan, walau tak harus memiliki

      Delete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete