Friday, October 2, 2020

Cape hati, baru berteman, ujungnya pinjam uang

Berteman, apalagi baru kenal, teman-temannya suami, tentu senangkan.
Paling tidak ada teman untuk diajak ngobrol daripada kalo kumpul, nggak jadi 'nyamuk galau', mau mengigit takut digeplok, nggak mengigit dikira sombong.

Sekedar tau saja, aku berteman standarnya biasa (sedang-sedang saja): tak dekat tak pula jauh, intinya teman sebagai penyambung silaturahmi, tanpa niat yang lain.
Tak heran, suka aneh aja, teman suami, berteman dekatnya melebihi pasangan sendiri, sukaaa heran ran ran (geleng-geleng kepala).
Kalo nggak ketemu, seperti orang kegigit nyamuk, gatal, kalo nggak  digaruk, gelisah, di garuk, puas, harus ketemuan. Suka anehhh, sebegitu dekatnya?
.
Mungkin latar belakang yang beda dua orang yang berbeda.
Dulu aku sangat mandiri, tidak tergantung dengan orang, suka-suka...(nggak punya uang, mending makan sama garam, daripada berhutang). Kebetulan, teman-temanku juga jarang minta ini itu, apalagi berhutang

Beda dengan suamiku, teman adalah segalanya, mereka adalah teman seperjuangan, penyimpan rahasia terbesar. Makanya, kami, dua orang yang.suka beda aliran.
.
Sangking dekatnya, apa-apa lossss aja minta ke teman, beliin baju merk itu, kutang ukuran itu, bahkan bayarin listrik, juga minta, berhutangpun lupa bayar. Apa sangking dekatnya?

Mendadak segala kemudahan itu hilang. 
Lenyap, setelah tempat curhat, tempat berharap itu : berkeluarga. 
Wajarlah, kini ada skala perioritas, lebih mementingkan keluarga dibanding  orang lain.
Bukan pelit, tapi kebutuhan banyak. 
.
Kembali, ke masalah hutang.

Aku senang bisa berteman, ngobrol di telpon, walau ceritanya berulang-ulang, eta deui eta deui. 
Sebagai teman baru, jadi aku pendengar setia, mendengar kegembiraan dan kegilaan mereka di masa muda, sembari terkaget-kaget. Ahhh dunia mereka
.
Sekali telpon, ceritanya rameee banget.
Telpon kedua, akhir yang bisa diterka; Duh, aku perlu uang nih, bisa pinjam nggak, seminggu dibayar.

Bagai terhujam diriku mendengar kalimat itu, ini yang kutakutkan. 
Secara, aku belum bisa punya cara untuk menolak. Pernah sekali dipinjamin,.ditagih setelah berbulan-bulan, lebih galakkan dia, ngadu-ngadu lagi. Sampai aku mending nggak usah berteman deh. Cerita selesai. Kemudian berteman lagi, eh....ujungnya juga samaaa: PINJAM UANG lagi.
Kok tetap tak berubah.
Dikira aku ini kaya raya (baju aja biasa-biasa aja), uang sih ada, tapi pas-pasan, cukuplah untuk hidup.
Sebenarnya, memberi pinjaman pada orang yang kesulitan itu pahalanya besar. 
Masalahnya, kita aja sulit, sekalipun dihutangin, nggak tau deh, dibayar atau tidak, Wa allahu alam.

Suamiku, tau benar, aku tak bisa menolak, malah jadi kepikiran, ujungnya tensiku naik, sakit sendiri(aku kudu belajar memberi alasan yang halus untuk masalah pinjam meminjam).
Untungnya, masalah hutang tak berlaku pada teman-temanku pribadi, sesusah apapun mereka, nggak pernah berhutang, malah saling memberi.
Karena, hutang adalah pemutus silaturahmi yang tajam. 
Awalnya akrab jadi renggang gara-gara hutang. Baik sudah dihutangi atau belum, tetap saja nggak enak hati.
.
.
.
Terakhir, napa juga urusan keuangan suami di masa lampau, ya kok istri yang di tagih. Napaaaaaaaa....
Herannnn.

Sekian aja deh, pesanku: Jangan suka berhutang, mending ke pengadaian. Solusi memecahkan masalah tanpa masalah.


No comments:

Post a Comment