Saturday, December 14, 2019

Motor Honda 80-an

Kembali aku bercerita tentang motor.

Tahun 1980-an, Bapak membeli motor bekas.
Kami di Palangka Raya menyebutnya Honda (apapun merek motornya) kami tetap setia menyebutnya dengan Honda.
Aku baru naik ke 5 SD di rumah kontrak Bukit Hindu, baru pindahan dari Kota Malang.
Adik mamaku ikut kami, Tante Pancar, dialah yang mengajari aku naik motor. Mungkin aku bertalenta segera bisa naik Honda. Jadilah motor Honda tahun 1970 berwarna merah menjadi rebutan aku dengan bapak Mama. 

Kakakku malah nggak bisa sampai sekarang, karena waktu belajar ngegas motor, malah badannya terlempar ke parit kering, sejak itu dia trauma.
Cilakanya, sejak saat itu aku jadi tukang ojek, antar jemput si Kakak
.
Untuk membeli motor baru tak semudah seperti sekarang, cukup DP 2 jt bahkan 0 DP, cukup tambahan KTP, KK dan struk bayaran listrik sudah bisa cicil motor dari 12 bulan sampe 5 tahun, sudah dapat motor baru keluaran terbaru pula. Gampang banget, itulah motor di jalan seperti laron banyaknya.

Dulu, Bapak harus jual kalung emas Mama atau nabung, baru bisa beli motor baru (nggak jelas, apa yang dijual)

Motor ke dua kami, Honda (baca: Motor) Binter 4 tak.
Motor merk Binter Kawasaki gigi 4. Biasanya motor dulu, cuman gigi 3, tapi Mama malah beli yang gigi 4 berwarna ungu tua (warnanya pun anti mainstream)
Di Palangka Raya cuman dua yang pake Binter (aku dan temenku Silvie Benung)
Dengan gigi 4, laju motor mulus sekali, jadilah si Een kurus kering hitam jeteng, jadi pengebut di jaman itu. Kalo sekarang, jangan tanya, jalan 20/km aja udah luar biasa. Pelannn boooo.

Bukan hal mudah si Binter sampe rumah kami, perlu waktu sehari semalam naik kapal air, dari Banjarmasin - Palangka Raya, transportasi darat belum ada. Jauhkan.
Saat itu aku bangga naik si Binter, walau ke sekolah tetep jalan kaki.
.
Pernah sekali pakai motor ke sekolah.
Pulang sekolah, asik aja jalan kaki, lupaaa kalo pagi bawa motor.
Sore hari, baru Mama nguaaaaamukk motornya hilang.
Motor ini cuman Mama yang pake buat bisnis catering dan percetakkannya. Nggak kepikiran dicuri orang (pencuri masih jarang). Baru aku ingat itu motor ke tinggalan di SMA 3 Palangka Raya. Langsung lari sekencengnya, Ya Allah, si motor tetep manis di tempat.
Sejak kejadian itu aku nggak pernah lagi bawa motor ke sekolah.
.
Pernah juga, aku disuruh ngelap si Binter, lalu aku lihat ada lubang di tutup bensin.Tanpa pikir panjang, aku selotif aja.
Besok harinya, Mama marah-marah, kenapa ini motor nggak bisa hidup. Tukang bengkel datang, nggak tau penyebabnya (bingungkan)
Yang bisa menghidupkan cuman Bapak....Dimana penyakitnya?
Aaah...itu lubang yang aku isolatif menyebabnya. Nggak tau kenapa bisa nggak hidup kalo di tutup?
untung Bapak pendiam, jarang marah, paling juga tau kelakuan siapa lagi kalo bukan aku.
.
Tahun 1989; Bapak belikan aku Honda - 80an warna Hitam, paling ngehit jenis ini(lupa namanya)
Motor yang paling setia menemaniku ke kampus.
Gara-gara punya motor, jarang-jarang cowo ngajak bonceng an ke motornya, karena aku punya motor sendiri.
Motor itu penting bagiku
(Aku ditinggal keluarga sendirian, karena semua pindah ke Jakarta)
Jarak rumah,, satu kampus ke kampus di Univ. Palangka Raya jauhh. Gempor betis (mana aku kan masih gadis), hingga motor Honda ini menyelamatkan ku dari kaki kesebelasan, sekalipun sekarang, nggak pake Honda, malah jadi kakiku kesebelasan plus rorombehan...nggak ada cantik-cantiknya.
.
Motor Honda itu terjual karena sakit parah, kalo di injek pedalnya, mesinnya meletup sampe businya meloncat (sangking seringnya dibubut)
Akhirnya beli vespa Exsel bekas yang tak kalah ngejengkelin, suka putus tali rem giginya, benar-benar dibuat mati gaya.
.
Terakhir, entah motor yang keberapa, gonta-ganti motor bekas melulu, beli cash, mau nyicil belum berani.
Barulah motor Honda Kharisma 125 CC ini dibeli nyicil lewat koperasi potong gaji (jadi nggak kerasa) sampai lunas. Makanya, sayangg mau dijual, jasanya banyak.
Biarlah tetap memakai motor tua. Nggak ada juga yang meghina.
Kalo ada yang menghina, eikeh swing.
Ape lo!
Senggol bacok..huhaaaahaaa

No comments:

Post a Comment