Friday, April 3, 2015

MENGUAK MANISNYA SANDIWARA

Daily1

Gemetar saat aku ajukan surat tanda gugat cerai Islam.
Surat di selembar kertas bermaterai, yang ditanda tangan aku dan suami.
Kupikir, inilah jalan terakhir dari seluruh kesabaran dan ketegaran.
Seorang wanita yang selama 22 tahun hanya diam dalam tekanan batin maha dasyat. Menanti, sumbu bom waktu, titik nadir kehidupan.
Terkumpul sudah keberanian untuk keluar dari ketidak berdayaan.
Hanya kepada Allah, aku pasrahkan.
Amoun Ya Allah, telah patah ke empat tiang yang ku pertahankan selama ini.
Ampunkan hamba, jika hamba tak sanggup lagi

Malam berintik rinai, di depanku, kakak ipar sebagai saksi.
Bagai tersambar petir di siang hari..ia tidak percaya
tapi, ini harus kulakukan, dan harus percaya
Inilah yang terjadi, tolong  tanda tangani.

Tak ada yang tau, sandiwara panjang yang kulakoni
Keluarga kecilku , bagai keluarga harmonis.
Senyum yang berhias, sungguh serasi`
Tiada yang tau, bahkan orang tua, sanak saudara, tetangga.
cerita getir hidupku...ku telan sendiri. naif.

Dalam airmata, seluruh kata-kata kasarmu sudah biasa bagiku.
"Muak aku denganmu ", itu kata-katamu
Aku mencuci wajahku yang penuh luka
luka lembam dan air mata
Aku cuci, cuci dan cuci
Aku membatin, "berubah , berubah, berubah pada wajahku."
Agar aku kembali tersenyum dihadapan mereka.
Tetangga, teman, keluarga dan para sahabat.
Luruh rantah hati dan jiwa didalam ragaku
Aku selalu bersandiwara

Kau telah sobek surat nikah, saat awal menikah. Aku hanya diam.
Kukumpulkan serpih yang tersisa, dan kusembunyikan.
hatiku hancur, tega nian, tapi kau adalah pilihanku.
Kau adalah cinta pertamaku, tak ada yang lain. Lugu.
Berjalannya waktu, kita bangun rumah tangga dari nol.
dari tiada menjadi ada.
Semua ku simpan sendiri.
Wajahmu yang tampan, tak heran, banyak wanita yang suka.
Aku memaklumi, mungkin kau sedang puber.
Nyatanya, kau larut didalamnya.
"Ini lika liku laki-laki," bantahmu kasar.
selama 10 tahun terakhir, wanita yang sama bergelut dengan.
Dan kau suruh aku, terus pura-pura tak tau.
Cinta dan benci, setipis sutra...waktu berjalan tak terasa.
Namu, alangkah tak adil...cemburu butamu,
Itu yang tak bisa kuterima.
Alangkah, kau ingin menyudutkan dengan berbagai cara.
Aku tetap tegar, sampai aku merasa kalah dalam jihadku.

Mengapa, aku terlalu mencintaimu? kadang aku membatin.

Rasa sakit tertutup, karena aku tak sedikitpun ingin berpisah.
Hanya doa yang kulangitkan, agar kau berubah.
Sampai aku berdiri di pintu kabah...berdoa kepada Allah.
"Ya Allah, berilah hamba keberanian, dan jalan terbaik."

Jawab-Mu, Ya Allah....Setelah kumenanti tujuh tahun lamanya.
Malam kelam, untuk yang kesekian .
Anakku berteriak sakittt papah
Kau tempeleng dia, itu anakmu,cuman satu, tega nian.
Kau selalu ancam kami dengan pisau dapur
Memburuku, dalam ketakutan, pintu kamar kau tendang.
Anakku berlari ke pintu pagar yang yang terkunci.
Berteriak lantang, Tolong.
Terkuak sudah, manisnya sandiwara kita selama ini.
Bom waktu meledak.

Kesadaranku bangkit, suatu saat kami tertikam oleh mu
Kebelum mati sia-sia
Sudah!
Kuakhiri sandiwara manis selama ini.
Kupadamkan lampu sorot, kepura-puraan.

kuajukan surat tanda gugat yang berakhir hari ini
aku tlah bercerai sah secara Islam
darimu..
lelaki yang tlah bersama 22 tahun
kini berakhir sudah...usai sudah massa iddahku

Kumenutup buku harian hari ini

selesai sudah derai air mata.

Bogor, 3. 4. 2015
Kutulis, pada tanggal yang sama dua tahun yang lalu, 3.4.13

***

No comments:

Post a Comment