Monday, March 16, 2015

Merajut Kerapuhan

MERAJUT KERAPUHAN


Adakah mimpi menjadi nyata?
Jika semua berujung kecewa.
Tak akan pernah aku merajut dalam kerapuhan.Tak mau, jika ku tau...
Sakitnya begini sempurna.
Jemarinya memintal ujung benang.
Rajut tak tau, apa yang dirajut.
Ditarik kasar nafas dengan dengus.
Bestari menelan resahnya.

Alangkah durjana, lelaki itu.
memupuskan semua asa
Harapan melangit, lenyap.
Mimpi yang dirajut, terurai...
Setahun bersamamu, kasihku
Merajut cinta menari di angkasa.
Aku menaruh percaya di hatimu.
Karena, seluruh janjimu.


Bestari, perempuan bersuara merdu.
Bening melantunkan irama
Syair puisi yang dicipta, duhai kasih.
Sempurna dijadikan sebuah lagu.
Bersama, selalu bersama.
Sebuah produksi indie.
Lantunan cinta asmara.
Setahun bersamamu, begitu indah.
Bahkan, kau janji, menikahiku.
Sebuah rencana dirancang
Bahkan Bude di kampung
sudah dikabarkan, berita ini.
Semua memuncah bahagia.
Siar  sekampung.
Bestari akan menikah.
Lelaki teramat tampan.
[senyum kecut Bestari mengingatnya]
Nyatanya...Semua hanya mimpi.

[Bestari menghentikan rajutan]
Setelah proyek lagu selesai.
Usai pulalah semua.
berlahan kau menjauh, semakin jauh.
melupakan semua janji.
Tinggallah, Bestari meratap sendiri.
Duhai, sudah kupatri cintamu teramat dalam...kenapa kau berlalu?
Lupakah padaku?

Kini, Bestari tau.
Setahun ini, ia memintal benang.
Kemudian dirajutnya sendiri.
Merajut pada benang yang rapuh
Patah terurai.
Jika kutau, kau menjual mimpiku.
Membual janjimu.
Akan kurajut mulutmu.
setelah itu, kurobek kejam.
Bestari mengusap bulir airmatanya.
Sungguh....
Asmara pergi berlalu.
merajut yang tak nyata.

Cikalahang, 16 Maret 2015

No comments:

Post a Comment