Monday, October 7, 2013

KALAKAI...




"Ini  ngarannya Lambiding".

Kalahai,  dalam hatiku.
Nggak mau berdebat..yang pasti itu nama dalam bahasa daerah Bakumpai, lambiding.
Yang pasti, itu jenis paku pakuan yang banyak di belakang rumahku, kalakai.
Kalakai tumbuh liar di lahan kosong yang berair di Palangka Raya.

HUTANKU..

Source Google
         
                                          
Kemana kucari hutanku
tlah berganti rupa dengan hamparan kelapa.
Kemana lagi pekikkan bekantan,
sudahkah habis musim bercinta.
Tiada tempat untuk berayun manja.

Dimana hutanku kini..
habis terberangus dimakan zaman.
masih adakah sisa untuk anak cucuku
.........tinggal kenangan.


BEAUTIFUL EYES IN HIJAB

                                                       
                                           (source : google)

Aku duduk di Masjid Nabawi menunggu waktu sholat Asar.
Ku lantunkan ayat Suci Al Qu'ran dengan pelan,
bila usai aku kulanjutkan berdzikir..
Wanita semua berkumpul didalam Masjid.
udara yang sejuk dan jejeran termos air zam zam siap sedia.

Tiba tiba duduk disampingku seorang wanita Arab,
dan ketika hijab itu dibuka,. Subhannallah.
" Ini manusia atau bidadari " batinku..
Cantikkk dengan mata coklat dan berkulit putih.
aku terpana tak habis habisnya terpesona,
Cantik.. cantik sekali.

(Masjid Nabawi -  Madinah, 6 Desember 2006 jurnal hajiku.)


Thursday, September 19, 2013

KERETA API KU

Aku berlari kencang dengan barang bawaanku,
nafasku berpacu, jantungku berdegup keras.
Selalu begitu..aku selalu begitu.
Naik kereta api jurusan  Cirebon - Gambir selalu datang pada detik terakhir,
maklumlah aku perlu 45 menit sampai di stasiun Kejaksaan dari kampungku.
Aku duduk di nomer kursi yang ku pikir sudah benar,
masih mengatur nafas yang tersekal serta  jilbabku  yang bentuknya nggak karu- karuan.
Tiba tiba seorang ibu dengan kaca mata besar bergaya ala selebritis,
bawaannya banyak dan kerepotan dengan baju tumpuk kaosnya
dia juga berjilbab dengan punuk yang besar.

Wednesday, September 18, 2013

JURNAL HAJIKU

Catatan  buku jurnal hajiku

Buku Kecil yang selalu ku tulis saat berhaji
Kubuka, kembali kubaca, sebuah buku kecil sangat sederhana.
Disini,  kutulis seluruh perjalanan hajiku 7 tahun yang silam.
Saat aku menyadari, aku tak bisa menjamin hidupku.
Apakah besok masih sehat dan berumur panjang?
Ongkos Naik Haji yang telah dipersiapkan bapakku, mengendap lama sejak aku masih gadis. Bapakku menyiapkan ongkos haji pada setiap anaknya.
Sayang aku belum berangkat, sibuk mengurus rumah tangga.

PAK TUA PENJUAL PISANG

Perawakannya kecil, berkulit hitam terpanggang matahari.
Tubuhnya ringking dengan pikulan yang besar dan berat.
Pak tua itu, penjual pisang.
Aku merasa trenyuh melihatnya.
Spontan ia menunjuk sesisir pisang dengan jempolnya serta tersenyum dikatup rapat .  
"Sabaraha atosna, Pak?" tanyaku ramah dengan bahasa sunda.
Dia tidak menjawab, hanya menunjukan jarinya ke mulut.
"Hah!! lima belas rebu," Pisang kecil dan jelek segitu mahalnya
"Sepuluh rebu nya," tawarku didasari kasihan, paling dipasar Rp. 7.000,- juga dapet...
Dia tetap mengeleng, tetap pada harganya.
Ku pikir ini orang pasti bisu, di ajak bicara malah nunjukin mulutnya.
aku tau artinya ; saya tidak bisa bicara. Dengan niat syadaqoh, akhirnya kubeli pisang itu dan melaju dengan motorku. Di rumah pun pisang itu tergeletak di meja makan,  tidak ada yang berminat.

SENYUM ....


Aku gugup, benar-benar kikuk.
Sudah lama tidak buka-buku , apalagi pakai komputer.
Tak di sangka, aku lulus di PT. Inhutani II  unit HTI Palangka Raya, Kalimantan Tengah

Pertama masuk kantor, semua terasa asing di ruangan ini,
Tidak ada yang menyapaku.
Karyawati baru, begitulah  sorot mata mereka.
Semakin gelisah di wajahku,

Namun, senyum manis dari wajah bulat itu
Meneduhkanku, mengajak aku bicara
bahkan ia pun mengajariku  cara kerja.