Kalimat tanpa spasi. Aku hanya ingin menulis dan terus menulis, tentang kucingku, cerita hidupku dan semuanya.
Monday, October 7, 2013
BEAUTIFUL EYES IN HIJAB
(source : google)
Aku duduk di Masjid Nabawi menunggu waktu sholat Asar.
Ku lantunkan ayat Suci Al Qu'ran dengan pelan,
bila usai aku kulanjutkan berdzikir..
Wanita semua berkumpul didalam Masjid.
udara yang sejuk dan jejeran termos air zam zam siap sedia.
Tiba tiba duduk disampingku seorang wanita Arab,
dan ketika hijab itu dibuka,. Subhannallah.
" Ini manusia atau bidadari " batinku..
Cantikkk dengan mata coklat dan berkulit putih.
aku terpana tak habis habisnya terpesona,
Cantik.. cantik sekali.
(Masjid Nabawi - Madinah, 6 Desember 2006 jurnal hajiku.)
Thursday, September 19, 2013
KERETA API KU
Aku berlari kencang dengan barang bawaanku,
nafasku berpacu, jantungku berdegup keras.
Selalu begitu..aku selalu begitu.
Naik kereta api jurusan Cirebon - Gambir selalu datang pada detik terakhir,
maklumlah aku perlu 45 menit sampai di stasiun Kejaksaan dari kampungku.
Aku duduk di nomer kursi yang ku pikir sudah benar,
masih mengatur nafas yang tersekal serta jilbabku yang bentuknya nggak karu- karuan.
Tiba tiba seorang ibu dengan kaca mata besar bergaya ala selebritis,
bawaannya banyak dan kerepotan dengan baju tumpuk kaosnya
dia juga berjilbab dengan punuk yang besar.
Wednesday, September 18, 2013
JURNAL HAJIKU
Catatan buku jurnal hajiku
![]() |
| Buku Kecil yang selalu ku tulis saat berhaji |
Kubuka, kembali kubaca, sebuah buku kecil sangat sederhana.
Disini, kutulis seluruh perjalanan hajiku 7 tahun yang silam.
Saat aku menyadari, aku tak bisa menjamin hidupku.
Apakah besok masih sehat dan berumur panjang?
Ongkos Naik Haji yang telah dipersiapkan bapakku, mengendap lama sejak aku masih gadis. Bapakku menyiapkan ongkos haji pada setiap anaknya.
Sayang aku belum berangkat, sibuk mengurus rumah tangga.
PAK TUA PENJUAL PISANG
Perawakannya kecil, berkulit hitam terpanggang matahari.
Tubuhnya ringking dengan pikulan yang besar dan berat.
Pak tua itu, penjual pisang.
Aku merasa trenyuh melihatnya.
Spontan ia menunjuk sesisir pisang dengan jempolnya serta tersenyum dikatup rapat .
"Sabaraha atosna, Pak?" tanyaku ramah dengan bahasa sunda.
Dia tidak menjawab, hanya menunjukan jarinya ke mulut.
"Hah!! lima belas rebu," Pisang kecil dan jelek segitu mahalnya
"Sepuluh rebu nya," tawarku didasari kasihan, paling dipasar Rp. 7.000,- juga dapet...
Dia tetap mengeleng, tetap pada harganya.
Ku pikir ini orang pasti bisu, di ajak bicara malah nunjukin mulutnya.
aku tau artinya ; saya tidak bisa bicara. Dengan niat syadaqoh, akhirnya kubeli pisang itu dan melaju dengan motorku. Di rumah pun pisang itu tergeletak di meja makan, tidak ada yang berminat.
SENYUM ....
Aku gugup, benar-benar kikuk.
Sudah lama tidak buka-buku , apalagi pakai komputer.
Tak di sangka, aku lulus di PT. Inhutani II unit HTI Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Pertama masuk kantor, semua terasa asing di ruangan ini,
Tidak ada yang menyapaku.
Karyawati baru, begitulah sorot mata mereka.
Semakin gelisah di wajahku,
Namun, senyum manis dari wajah bulat itu
Meneduhkanku, mengajak aku bicara
bahkan ia pun mengajariku cara kerja.
Subscribe to:
Posts (Atom)




