Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Sunday, December 22, 2019

Terkenang Mama

Mamaku penyandang diabetes, hingga telapak kakinya selalu terasa dingin seperti es.
Tak heran mama selalu memakai kaos kaki tebal, aku namai kaos  kaki tawaf.
Oleh-oleh yang Mama nanti hanya kaos kaki tawaf yang lebih mudah di dapat di Pasar Kembang Bogor, di kampung Cikalahang jarang ada.

.

Teringat kembali masa remajaku.

Aku paling sering disuruh Mama, mungkin karena sudah bisa mengendari kendaraan...

Kadang, Mama membawa berjualan telur ayam hasil perternakan kami sendiri di Palangka Raya tahun 1980. Kala itu aku masuh kelas 5 SD

Aku suka dibonceng Mama untuk membawa telur untuk diantar ke pembeli.

Sampai dewasa, Mama..paling sering menyuruh, belum satu pekerjaan selesai, sudah disuruh. Selain disuruh paling sering diomelin.
.
"En, ganti bed cover Mama ya" tanpa diminta, itu kamar besar sudah aku bersihkan. Sedot debu, sikat kamar mandi, lipat pakaian dan merapikan pembukuan Mama.
Tak heran, aku tau dimana Mama meletakkan barang-barangnya.
"En ambil inii...ambil itu."
.
Baru kini aku menyadari.
Tak ada lagi yang menyuruhku.
Tak ada lagi yang mengomelinku (aku baru sadar, diomelin Mama karena Mama tak sungkan denganku) kalondengan anak yang lain, Mama

nggak berani nyuruh juga sungkan ngomel.

Baru kurasa, setelah Mama Bapak tiada.
Alangkah bahagianya, ada yang membutuhkan kehadiran kita.
Menanti kedatangan untuk pulang kampung.

Tak ada lagi yang menyuruh
"En, buat sayur sop gurami." makanan kesukaan Bapak.
Tak ada yang pagi-pagi menyuruh membuat spagetti, seblak, juhu asem kesukaan Mama.

Tak ada lagi yang  menelpon di pagi hari
Tak ada lagi yang menasehati.
Malaikat tak bersayap di dunia telah tiada.
Tiada lagi yang tak henti-hentinya berdoa untuk kebahagiaanku.
Tak ada.

Rumah besar
Kamar besar
Kini sepi tak berpenghuni.
Sepiii.

Nasehatku pada kalian yang masih punya orangtua.
Selagi hidup, berbaktilah.
Sempatkan waktu untuk mereka.
Jangan marah jika dinasehati.
Karena nasehat orangtua adalah kumpulan dari perjalanan hidup.
.
Kini hanya doa sebagai kado buat Mama Bapak
Selamat hari Ibu, ya Ma

22 Desember 2019

Sunday, November 3, 2013

KEPERCAYAAN, IBARAT KERTAS


Sebuah tulisan bijak di buku yang kubaca hari ini. 
"Kepercayaa itu ibarat kertas, jika ia diremas. Kepercayaan itu tidak akan kembali"

Kenapa mendadak aku rindu dengan kakak perempuanku?
Kukemas bingkisan untuknya, hanya makanan kecil.

***

Sedari pagi, rinai gerimis seakan tak ada akhirnya. Dengan sepeda motor, aku melaju ke rumah kakakku. Sudah lama tak berkunjung, ada terselip rindu dengannya. Rumah tempok dengan cat usang terkelupas. Suram. ..Aku mengibas rambutku yang basah sembari celingukkan. Rumah tampak begitu sepi tiada berpenghuni.

Seraut wajah dengan senyum lebar, susunan gigi yang sangat rapi.
Masih tersisa kecantikan di masa lalu,  tersembunyi di balik badan tinggi besar. Mantan Model. Sayang, kegetiran hidup memendamkan kemolekkannya. 
Mana sempat terpikir untuk merawat badan. Banyak pikiran. Anehnya, semakin stres, semakin nafsu makan meningkat...Bentuk pelarian yang tidak sehat.
Di balik tubuh besar yang di sangka orang 'bahagia', tersimpan hati yang kurus kering kerontang.
Eliani sudah hampir dua puluh tahun dikhianati suaminya. Kurus hatinya karena minum madu.

Madu? Istri-istri suaminya. Sebagai Istri pertama, dialah yang paling terpukul. Kasihan.

"Memang jatuh cinta itu mudah, tapi untuk setia, itu luar biasa"
Eliani mulai mengobrol sembari mengigit tahu brontak yang kubawa.
"Jatuh cinta itu enak! sayang-sayangan. Semua terlihat terlihat manis. Cinta semu!"

Sebagai seorang wanita,  ia layak kusebut bidadari 
Bidadari versi besar. Big is beautiful...no matter!
Bagaimana tidak disebut bidadari. Berlapang dada, ketika suaminya menikah lagi, bahkan tiga atau juga empat orang wanita. Di akuinya, pada awalnya, sakit hati! menangis sampai air mata kering. Kemudian ia sadar,  menangis darahpun tidak mengubah keadaan.
Sejalan dengan waktu Eliani menjadi terbiasa bahkan kini ia tidak perduli.

"Mau sepuluh wanita, silahkan!...aku enggak mikir! Aku enggak perduli lagi!

Yang penting. duit kemari!" jarinya menjentikkan, seakan uang datang.

Kadang aku berpikir terbuat dari apa hati kakakku ini? Sanggup menjalaninya.


"Cinta itu, bukan hanya ditabur. Ketika benih tumbuh, perlu disiram  dan dipupuk. Begitulah seharusnya,  agar cinta selalu bersemi. Cinta itu, bukan ditinggalkan begitu saja, ia akan menjadi layu dan mati.

Duluuu, aku cemburu dan menangis sepanjang hari setiap ia main perempuan. Bertengkar hebat dengannya. Akibatnya aku dimarahi, habis aku dimaki." 
Eliani menarik nafas menahan gemuruh di hatinya.

Suami Eliani itu  tidak pernah sadar, jika istri menangis, itu tandanya ia sangat mencintai dengan cemburu.

Kini, baru suaminya tau, setelah sekian tahun berlalu, tak lagi didapatinya,  Eliani, sang istri   menangis,  bahkan berdebat pun malas, Eliani cenderung diam.

"Jangan salahkan, jika hatiku telah membatu, dan air mataku kering.
Itu tandanya hati dan cintaku tlah mati..."

Waktulah yang membuat hati seseorang belajar mengkondisikan keadaan.

Waktu pula yang membuat cinta tak bersemi lagi. Semua begitu hampa baginya.
Rumah tangga ini berjalan bagai perahu yang hanyut, mengikuti kemana air membawanya pergi. Hampa, hilang arah. Cinta yang susut termakan waktu.

Kepercayaan yang terkoyak, siapa yang harus dipersalahkan?

Jika manusia dapat membalikkan waktu, tentulah kondisi ini tidak akan diterima. Begitupula bagi Eliani. Kini ia sudah merasa tua, tidak ada lagi yang diharapkan. Hanya kebahagian dari anak cucu serta keluarganyalah, yang memberi tetes kesejukkan.

Kini, Eliani bahkan tidak rindu lagi dengan suaminya, karena jarak yang jauh menyebabkan suaminya jarang pulang. Eliani hanya ingat suami, ketika isi dompetnya kosong. Barulah ia menelpon.

Jika tidak, dimana,  kemana, mau apa?  Eliani tidak perduli lagi. 
Begitu pula suaminya, kadang bisa dihitung dengan jari untuk menelpon Eliani. 
Jika sang suami pulang ke rumah, di pantat terasa ada duri menusuk, tidak nyaman, lebih baik tidak usah datang saja. Apalagi ingin bercinta...Buang jauh-jauh keinginan itu, 

Entahlah...mengapa hati ini bisa  berubah. Apakah karena kepercayaan telah  dirusak? Sekalipun menerima keadaan tetapi itu hanya teori, kepercayaan ibarat kertas, jika diremas dia tidak akan kembali sempurna seperti semula.

"Jagalah kepercayaan itu ya, Dik...Kamu, laki-laki,suami dan kamulah yang memegang kendali. Mau di niatkan, apa tujuan rumah tanggamu? semua terletak ditanganmu! "


Sebuah nasehat sederhana dari kakak perempuanku, antara sedih aku memandangnya. tetapi aku bahagia melihatnya.

Selalu...selalu ada senyum yang lebar menghiasi wajahnya
Senyum yang kadang, aku sendiri tidak tau apa artinya.

Oh!  kakakku...Telah menemukan arti cinta sesungguhnya dari manis dan getir kehidupannya.
Dan aku, laki-laki serta suami. Tak akan kunodai kepercayaan istriku, sejak ijab kabul.
Akan aku jaga untuk selalu setia sampai ujung usia.
Bagaimana aku tega merusak kepercayaan itu.
Dari Eliani kakakku, aku tau itu sangat menyakitkan.
Tak akan sekalipun, kurusak kepercayaan itu.
Aku akan selalu setia mencintaimu, wahai istriku.

***


Bumi Seribu Masjid,1985.


Saturday, November 2, 2013

AKTOR REALITY SHOW





"Merry sayanggg...Jangan lupa minum obat "

Nasehat dengan suara yang lembut dan manja...hmmm.

Beberapa menit kemudian ponsel satunya berbunyi keras, ini dering ke tiga kalinya.
"Sudah tauuu Rosss...Nggak usah aku di beritahu, aku ingat !!! "
Huh !!! suaranya berubah menjadi keras dan membentak kesal.

Ia mendengus terlihat gusar, menarik nafas sesaat.
 "Maaaaa... Papa udah transfer uang untuk beli laptop dan lain-lain, uang itu cukup buat sebulan " Suaranya terdengar datar dan emosinya stabil.

Nada suara yang bisa berubah dalam beberapa menit, sesuatu yang luar biasa. Keahlian ini butuh waktu untuk dipelajari beberapa tahun untuk bisa memerankannya. Hebatnya, perubahan suasana hati dapat dengan cepat berubah. Semuaa...sesuai siapa yang ia sedang hadapi.
Jonni, lelaki beristri tiga, pandai memainkan perannya, kalau tidak : Kiamatlah dunia!
Prilaku yang berbeda pada setiap istri tergantung cinta mana yang lagi menggebu...itulah Jonni.

***
ISTRI KE TIGA
Beberapa tahun kemudian.

Istri muda yang dulu jika ditelpon dengan suara lembut mengoda, kini jadi berbeda. Cinta berlalu bersama waktu, jarak usia 20 tahun membuatnya lebih cenderung sebagai bapak dengan anak, main perintah dan bentak sana sini. Kasihan si Merry..dulu dipuja sekarang biasa saja.

"Bawa barang di mobil!" perintah suaminya, Merry bersusah payah membawa belanjaannya.
Jonni berlenggang jalan didepan.
 " Loh akukan nggak suka sama makanan ini, Bodoh !" bentak Jonni.
Merry hanya mengeryit mulutnya kecut tidak berani menjawab.

Semenjak menikah Merry  seenaknya diperlakukan Jonni  tetapi sudah terlanjur jatuh cinta. Yang tetap sama dari dulu adalah cara dandan suaminya mengikuti gaya anak muda. Maklum Merry berusia muda 27 tahun, Jonni berdandan  seperti seusia istrinya. Kaos bermerk ketat dibadan dan celana denim selutut sepatu kets. Suaminya memang terlihat muda, Merry harus rajin mencat rambut Jonni yang beruban. Beginilah resiko bersuami tua, yaaaaa harus mendandani seperti anak muda...bukan maunya Merry tapi Jonni .

***
ISTRI KE DUA

Terhadap istri ke dua yang rada judes, pemarah dan ceplas ceplos, lima anak didapat dari Rosmiati.
"Kalau nggak cinta mana bisa berternak sebegini banyak" 
Anak yang dilahirkannya dikatakan hasil berternak. 
Ros yang paling banyak anaknya, tak heran kebutuhan keuangan dominan dikirim ke istri ke dua ini.
Ros sedikit bawel, anehnya Jonni takluk. Dandanan yang biasa dendy berubah total jadi nggak karu-karuan, bersepatu saja nggak sempat malah bersendal jepit butut dangan kaos kumal.

"Bawa, Paaa...Barangnya. " Perintah Ros, bersusah payah Jonni mengangkat barang dari  bagasi mobil kedalam rumah, Ros sibuk mengendong anak bungsunya.
Belum selesai penatnya, anak kedua minta main kuda-kudaan. Tiba-tiba si bungsu yang baru belajar jalan terantuk jatuh.
"Gimana sih Papa iniiiiiiii," Ros mengomel tak henti-henti sambil meneteki anak untuk mendiamkannya....Jonni hanya mampu diam.

***
ISTRI PERTAMA

Ahhhh...suasana yang berbeda. Rumah yang paling tenang adalah di rumah Maya, istri pertama.
Jika Jonny bisa mengembalikan waktu, cukuplah ia hidup berdua dengan Maya istrinya. 
Diusianya yang tidak muda lagi, ia tidak direpotkan tangisan anak kecil disekelilingnya.
Tentunya saat ini ia sedang duduk di kursi goyang menikmati secangkir kopi dan pisang goreng, sembari memandang cucu yang lagi lucu-lucunya. Anak bungsunya selalu berlaku santun padanya, memijat pundak sambil bercerita. Maya mengajarkan kesantunan dan rasa hormat kepada bapaknya , walaupun mereka tau ada lima saudara tiri dirumah yang lain.

Dan jika berbelanja, Maya akan membawa sebagian barang dan sisanya Jonni yang mengangkat.
Tidak sekalipun Jonni membentak Maya dan tidak sekali-kali Maya berkata kasar.
Cara berpakaian Jonni jauh berbeda, disaat berkumpul dengan anak cucu dan Maya, Jonni akan berbaju koko rapi dan bertopi putih sesuai usia.

Jonni pandai memainkan perannya, cara berbajupun berbeda dan suara serta tingkah lakunya  bisa berubah sesuai kondisi..
Aku melihat seorang pria yang mampu menjalankan perannya dengan sempurna, walau kesempurnaan itu hanya Milik Allah.
Tapi bagiku, Jonni layak diberikan piala Oscar untuk perannya sebagai aktor reality show.
Reality show tentang tiga kehidupannya dengan warna yang berbeda.
Yang aku tau, Jonni selalu ingin kembali pada rumah pertamanya.
Berbaring tenang dan siap selalu menerima kehadirannya
...Dia adalah  istri pertamaku, kata Jonni.


***

Dari cerita diatas yang bersumber dari pengamatanku dengan seorang teman(maaf tidak saya sebutkan namanya) Lelaki berpoligami harus bisa memainkan perannya mengahadapi ke tiga istrinya, malah cenderung menjadi pria pembohong.

Cemburu adalah rasa dominan yang dimiliki peremun khususnya istri, tak bisa dielakkan dalam kehidupan berpoligami, selalu ada komplik antar istri, cemburu satu dibelikan barang, cemburu karena cinta yang terpaksa dibagi. Cemburu dimana sang suami berada hari ini saja bisa menjadi perang dunia ke empat dalam rumah tangga. 

Jika tak sanggup membagi pikiran dan kasih sayang menjadi empat, lebih baik, cintainya dan curahkan kasih sayang cukup pada satu istri saja. Dijamin aman, rumah tanggah kokok dan Samawa.