Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Saturday, June 11, 2016

Takut Kasmaran


Dua belas jam aku menahan lelah.
Perjalanan panjang Swiss ke Indonesia transit Singapura.
Kemudian, aku harus menunggu 9 jam lagi di negeri berlambang singa.
Badanku terasa remuk. 
Sepanjang perjalanan, aku tidak bisa tidur lelap di pesawat. 
Dan akhirnya, aku pun sampai di Bandung.

Berburu matahari, menghindar dingin.
Dan berjumpa seorang teman.

Friday, May 13, 2016

Kadang

Ingin berlari.
meninggal jejak
menghapus luka.

Ingin berlari
berhenti, tegak berdiri.
Tak ada tempat bersandar
hanya kepada Allah.

Ingin berlariii

Thursday, February 11, 2016

Tuesday, December 15, 2015

Merindu ke Pagian

Meluap kata cinta
Persetan untuk diucapkan.
Tak lagi angin ku hembuskan.
Tak perduli

biarlan embun memudar
Terbang di bawa mentari
tak lagi ku merindu
sudah kubuang asa
bawa sana
tak lagi dipagi ini

Merindu, sia sia
tak pernah pula menyapa
mungkin
Untuk sejenak merenung

Jalan mana yang di pilih.
merindu terlalu pagi.
sampai kapan.

Wednesday, September 16, 2015

Menunggu

Menunggu.
lelah
menunggu
ragu.

hampa semuanya.
apa yang dicari?
menunggu
ketika denyut kasmaran
tak terasa

menunggu
lelah
menunggu
ragu.

Duhai, yang tak tau rasa.
Tunggu jawabanku
menunggu
atau, tetap menunggu

atau berlalu.

Thursday, August 6, 2015

Sepasang Angsa

:: Sepasang angsa.

Bisakah  aku seperti itu?
menjadi sejati
menua bersama
Kata, entah.
selalu mengudara, darimu.
Entahlah...
melemahkan anganku
Lalu, buat apa bertemu.
berhari ku mengumpul rindu
Jika, berjumpa nanti,
itu  bukan untukku.
Kau, yang tak pernah ku mengerti.
Kau....
Kau.

Purnama muram

Bulan menunggu purnama
Menanti waktunya tiba.
terasa lama
merindu.

Nyatanya, tak ku duga.
aku bermuram dalam sinarku
kau...
besenang.

kau yang tak merindu seperti aku
Berliburlah.
berselancar.

pilihan, bukan untukku
bulan separuh  bayang
muram

Saturday, August 1, 2015

Serendipiti: Awal Januari Lalu

"Kemana saja, kamu selama ini," tanyaku.
Betapa lama aku menantimu.
Tuhan menjawabnya di awal Januari.
Doa-doa panjang kulangitkan setengah usiaku.
" Tuhanku, pertemukan aku pada seseorang yang mencintai, apa adanya"

Kubisikkan rasa rinduku, pada Tuhanku
Entah kepada siapa, seseorang itu.
Ternyata, aku harus sabar menanti.
bertemu denganmu.
Tak kuduga,
tak pula kucari
semua begitu saja terjadi.

Serendipiti.
Awal Januari, kau jawab sapaan.
Cara bicaramu padaku.
membuatku melangit.
menuju angkasa hingga nirwana.
Kau, tau, duhai.

Aku ingin terbang berjumpa denganmu.
Melihat sosok dan senyumku.
Aku ragu, maukah kau bertemu?
Serendipiti

Langit bumi Pajajaran, cerah.
Aku tiba, dalam perjalanan panjang.
Sore itu, aku berdebar, gelisah.
Adakah yang menjemputku?
Seumurku, aku datang dan pergi sendiri.
itupun, aku tak dipenuhi debaran.

Friday, July 24, 2015

Bertanya pada kaca

Aku lupa rasanya.
Bagaimana jatuh cinta?

Seraut wajah, mengeryitkan alis.
memandang lama.
Hmmmm...itu wajahku sendiri.
Aku lupa rasanya.
Sekian lama, terkubur dalam kehidupan.
Cinta? bagaimana rasanya?
Lupa rasa.

Tuesday, July 21, 2015

CINTA

Jangan tanya lagi.
Kenapa aku mencintaimu?

seperti juga kau,.
tak bisa menjawab.
setiap daku bertanya.

Cinta.
tak perlu sejuta kata
"aku mencintaimu."
Cinta, perlu tindakan bukan kata merayu.

namun aku, wanita.
sekali, katakan pula kata merayu.
katakan pula , cinta.
wanita tetap wanita.
bahagia di saat, dicinta dan mencintai.

Cinta.

Monday, July 20, 2015

Promise

Jauh di lubuk hatiku.
Tersimpan namamu.

Cepat pulang.
Meraki.
Merindu.

Friday, July 10, 2015

Melintas Parit Kecil

Parit kecil membelah desa
melintas di sana, setiap pulang sekolah.
Parit itu  digenangi air mengalir.
dangkal,  berlumpur halus.

Entah, apa nama bunga itu?
seperti matahari.
kelopaknya berwarna kuning
sari bunga bundar kecoklatan.
berbau sengit, berdaun duri
rimbun di sepanjang parit.

Thursday, July 9, 2015

Tak Ingin Pulang

Kutulis diantara terik matahari
Musim panas, 35 derajat.
Bermandi keringat.
Aku berada di langit tanpa kuas.
Biru menghampar tak berawan
lelaki wanita ramai berjemur
hanya memakai celana dalam.
tak ada kata malu, itu biasa.

Sunday, July 5, 2015

KALAH

Yang menyakitkan, adalah
Kalah pada kehidupan setelah 22 tahun.
Runtuh sudah ketegaran.
Aku tak mau bertanya lagi pada Tuhan.
Kenapa?
Tak lagi mengeluh pada manusia.
Aku hanya menunggu jawaban dari Allah.
Kini, kuterima semua.Takdir.

Tuesday, June 23, 2015

Entah...Bingung, Diam, Hening.

Matanya mengudara memutar langit berwarna jingga kemerahan.
entah, tak tau rasanya.
Mau dibawa kemana semua ini?
sebuah pertanyaan di sudut hati.
tak berani bertanya.
sebab, tak sanggup mendengarnya.
Diam, hening.

Tuesday, June 16, 2015

Darling, ini cerita tentang Bapakku

Darling, aku ingin bercerita padamu.
Diam, dan dengarkan saja.
Sore ini, aku rindu pada bapakku.
Sosok tauladan dalam hidupku.
Lelaki Jawa tengah.
Menikahi ibuku, asli Cimahi.
Makanya, Bapak betah di leuwi gajah.
Bapakku, tegas dan sederhana.
Tak suka marah.
Aku sangat menghormati.
Dia, adalah bapakku.

Monday, June 15, 2015

HUJAN RINDU

"Neng, hari ini aku merasa lelah. Badanku sakit semua...Udaranya ekstrim. Pagi dingin, siangnya terlalu panas. Sore cerah. Berubah-ubah."
Yun membaca pesan di malam itu. Hatinya pilu, tiada bintang di langit menambah suram.

"Saredih, nggak ada yang mijet."
Pesan beruntun masuk.
"Akang sakit? sudah minum obat?" tanya Yun, terbayang lelaki itu meringkuk sendiri, nun jauh di belahan barat dunia.
"Nanti sembuh sendiri, sigana kudu ke Indonesia." keluh Mul.
"Sabar, atuh. Kumaha deui?" rayu Yun.

"Heudeuhhhh...judul laguna, aku terpuruk di sini..."
Lalu, Yun dan Mul tertawa bersama.
Hilang semua rasa  sakit dengan mencurahkan perasaan, walau hanya lewat pesan. Hanya itu yang bisa di lakukan...Benua yang berbeda.

"Kang, urang sakit," bilang Yun.
"Hah!!! sakit noan, Neng?"
"Sakit rindu" jawab Yun sambil tersenyum.
"Ahhhh, kamu mah siga ABG"
"Cepat pulang....Lila teuing di dinya,"
"Kumaha deui atuh...gawe."
"Judul laguna, terpuruk aku di sini," balas Yun yang sama dengan Mul.

Mul, lelaki itu semakin gemes.
Seketika sakit badannya sirna. walau hanya berkata lewat pesan. Semua begitu indah. Sore di Swiss,  malam di Indonesia. tak menjadi masalah.

Yun dan Mul, jarak mereka yang begitu jauh, namun hati mereka begitu dekat.

"Hujan nggak disana?" tanya Mul sambil bersiap berangkat kerja.
"Nggakk, Kang"
"Di sini hujan"
"Loh, katanya udara cerah. Kok tiba-tiba hujan?" Yun merasa heran.
"Hujan rindu"
Yun tersenyum membaca pesan itu.
"Neng...berangkat dulu ya, aku sudah sehat. Nih! kukirim, lagu hujan rindu.
Tau nggak penyanyinya?"
"Nggakkk," tiba-tiba pesan masuk, lagu Hujan rindu, penyanyi Hari Mukti.

Selalu ada cara dibuatnya untuk Yun. Lelaki yang tak romantis, kadang sedikit aneh.
"Pria aneh yang ngangenin."

Kembali Yun tersenyum.
Benar, di sini sedang hujan.Derasss.
beribu hujaman di kalbu.
Hujan rindu.

Yun menghapus bening air matanya.
Kutetap merindu, dan menunggu.
Sampai kau kembali

Cikalahang, 14  Juni 2015.

Sunday, June 7, 2015

KEHAMPAAN

Temaram kota, lampu jalan kuning.
Suara lalu lalang begitu bising.
Dibangku taman, Laila duduk.
Hampa dan sendiri.
Tiba-tiba, semua melintas dalam benaknya.
Tiga tahun yang lalu.
Laila tersipu, pandangannya mengudara.
Dinding penuh kerlip kuning gading.
Rambutnyaa berhias kembang goyang.
Jemarinya yang selalu dipuja kekasih hati
"Dik,  jarimu berujung lancip," puji Sopian. Kala berdua, saat mereka bertemu.

Saturday, May 30, 2015

Mengengam asa

Asmara, berlumut di ujung hati
cahaya asaku memburai
serasa abu-abu
bertahan atau....
Kupilih dirimu.
dipucuk hatiku.
terkadang mulai goyah
mengengam atau..

Wednesday, May 27, 2015

Lima Menit

Melirik di ujung mata
sambil menunduk...
memperhatikan seluruh gerak
kerling sekedip.


Gelisah, kau di ujung meja
tarikan nafasmu tak tentu
hembusan bakau...huh!
gelisah, seteguk kopi
tak jua menyembunyikan
seluruh gejolak hati.

kau, dalam lima menit.
tak jua tenang
aku di sini.
sekedip
mengerling di ujung mata